
Firasat membawaku dalam gundah tak bertepi
Dan ketidak berdayaan adalah belenggu tak berkunci
Kemana angin meniup layar.Aku tak perduli perahu mengarah.Wajah mentari kujumpa, bawa aku semakin jauh. Bagaimana aku pulang? Jejak telah hilang dalam lipatan ombak. Aku buta ketika alam menolak difahami.





Terlambat, terlambat kau datang
Terlalu cepat, terlalu cepat aku pergi
Seharusnya hari akan indah
Tapi tak akan pernah
Pesonaku dan pesonamu sempat berpagut
Dan kandas dalam bisu
Hanya tatapan kita yang bersentuhan
Tanpa bertukar kata
Punggungku dihadapanmu
Wajahmu di balik lirik mataku
Aku tak tahu senyum itu untuk apa
Kau tak mengerti lidahku kelu karena apa
Satu kerlingan mata
Satu kelebatan rasa...
Mungkin pernah lahir
Bukan untuk tumbuh
Namun untuk binasa

Teman, duduklah barang sebentar
Kusediakan bangkai pohon yang tumbang ditebas zaman sebagai alasnya
Mari kita mengusap peluh
Tolong, jangan kau undang air mata
Rintih yang kau lagukan sudah lebih dari cukup
Jangan kau lupa akupun merasakannya
Kita memang tergilas roda nasib
Kita sedang tergerus takdir jahanam
Setengah keyakinan kita tercerabut oleh kenyataan
Jangan kau buang doa dari hatimu
Jangan kau hentikan pinta dari mulutmu
Belantara hidup akan semakin sulit dilalui tanpa itu semua
Senyumlah...
Meski itu mahal
Semangatlah...
Meski itu terkoyak





|
|